Di Malati kami belajar arti menjadi keluarga

Di Malati kami belajar saling menghargai dan bertoleransi

Di Malati Kami balajar arti kesulitan

Di Malati kami belajar saling membantu

Di Malati kami belajar arti kebersamaan

THANKS TO MALATI…!!!!

Sabtu, 07 Agustus 2010

HARI PERPISAHAN


Kata perpisahan adalah sesuatu yang saya tidak sukai, tetapi itu semua harus saya terima, karena konsekuensi dari suatu pertemuan yang diakhiri oleh kata perpisahan dan manusia berada didalam waktu yang terus berjalan.
2 hari sebelum kepulangan, kita membuat acara perpisahan, yang berupa hiburan dangdut dan penampilan slide show dari hasil-hasil foto seluruh kegiatan mahasiswa dan warga di desa Malati. Acara tersebut diakhiri dengan sangat sedih, dimana Baim kordes yang menyampaikan pidato perpisahan, yang isi adalah ucapan terimakasih dan permohonan maaf kepada seluruh warga desa Malati. Dan setelah itu semua warga menyalami kita semua, sebagai perpisahan secara personal kepada masing-masing warga. Keesokan harinya, sebelum hari kepulangan, kita melakukan acara nonton bareng anak-anak dan pamitan kembali khususnya kepada orang-orang yang telah banyak membantu kita, seperti keluarga pa hakim, keluarga pa ojos dan ibu win, pa kadus, dan lainnya. Malam harinya kita semua anak-anak KKN makan malam bersama dirumah ibu Win, setelah makan kita mengobrol dengan keluarga ibu win, dan tiba-tiba ibu win menangis, dan kata-kata ibu win yang membuat saya tersentuh dan merasa sedih adalah   “Kalian udah ibu anggap seperti anak sendiri”.sampai segitunya kedekatan kita terutama dengan keluarga Ibu win dan pa ojos, dan banyak tetangga-tetangga yang datang ketempat kontrakan kami untuk mengucapkan salam perpisahan, dengan perasaan sedih  tapi semua itu bisa diterima oleh kita semuanya. Hari kepulangan kita pun tiba, dengan menggunakan 1 mobil elf, dan 2 mobil pribadi. Tapi sebelumnya saya, Sheila, Chandra, Lisma mewakili semuanya pergi berpamitan ke SD Malati, sekaligus saya mau ketemu windy, hehe… ngucapin salam perpisahan juga. Di SD rasanya saya ingin menangis ketika saya melihat anak-anak SD dan tahu bahwa saat itu kita akan berpisah, tetapi semuanya dapat saya tahan. Setelah dari SD, dengan diantar oleh beberapa warga termasuk ibu Win kita semua bergegas untuk pulang, karena mobil sudah ada, tetapi sebelum kita hendak bertolak pulang, perwakilan dari anak-anak, Regawa dan Nani datang untuk memberikan kenang-kenangan kepada kita, berupa gantungan boneka, yang sekarang dipasang dimobil Abet. Setelah itu kita bertolak untuk pulang dari desa Malati dengan melihat ibu Win dan beberapa warga yang menangis. Dan tiba-tiba air mata saya pun tumpah dengan sendirinya, dengan melihat jalan yang sering dilalui saat kita berjalan kki menuju kecamatan, semua terlintas begitu saja dalam pikiran yang dapat membuat saya menangis. 
Perpisahan kepada Desa Malati, merupakan suatu hal yang menyedihkan dan Perpisahan pun harus dialami juga oleh sesama teman-teman KKN yang dipertemukan dari fakultas yang berbeda, untuk menjalani tujuan yang sama, yaitu menjalankan tugas KKN. Berat rasanya lepas dari masa 1 bulan yang singkat di Malati, untuk melepas kebiasaan canda tawa bersama teman-teman KKN dan sikap keramahan dari warga desa Malati, momen tersebut hanya ada 1 kali seumur hidup, dan itu harus berakhir dengan cepat  
Tetapi perpisahan tersebut hanya sebatas perpisahan fisik, dan semua hal dan momen tentang desa Malati dan teman-teman KKN tetap berada dalam ingatan kita semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar