
2 hari sebelum kepulangan, kita
membuat acara perpisahan, yang berupa hiburan dangdut dan penampilan slide show
dari hasil-hasil foto seluruh kegiatan mahasiswa dan warga di desa Malati.
Acara tersebut diakhiri dengan sangat sedih, dimana Baim kordes yang
menyampaikan pidato perpisahan, yang isi adalah ucapan terimakasih dan
permohonan maaf kepada seluruh warga desa Malati. Dan setelah itu semua warga
menyalami kita semua, sebagai perpisahan secara personal kepada masing-masing
warga. Keesokan harinya, sebelum hari kepulangan, kita melakukan acara nonton
bareng anak-anak dan pamitan kembali khususnya kepada orang-orang yang telah
banyak membantu kita, seperti keluarga pa hakim, keluarga pa ojos dan ibu win,
pa kadus, dan lainnya. Malam harinya kita semua anak-anak KKN makan malam
bersama dirumah ibu Win, setelah makan kita mengobrol dengan keluarga ibu win,
dan tiba-tiba ibu win menangis, dan kata-kata ibu win yang membuat saya
tersentuh dan merasa sedih adalah “Kalian udah ibu anggap seperti anak sendiri”.sampai
segitunya kedekatan kita terutama dengan keluarga Ibu win dan pa ojos, dan
banyak tetangga-tetangga yang datang ketempat kontrakan kami untuk mengucapkan
salam perpisahan, dengan perasaan sedih
tapi semua itu bisa diterima oleh kita semuanya. Hari kepulangan kita pun tiba, dengan menggunakan 1 mobil elf, dan
2 mobil pribadi. Tapi sebelumnya saya, Sheila, Chandra, Lisma mewakili semuanya
pergi berpamitan ke SD Malati, sekaligus saya mau ketemu windy, hehe… ngucapin
salam perpisahan juga. Di SD rasanya saya ingin menangis ketika saya melihat
anak-anak SD dan tahu bahwa saat itu kita akan berpisah, tetapi semuanya dapat
saya tahan. Setelah dari SD, dengan diantar oleh beberapa warga termasuk ibu
Win kita semua bergegas untuk pulang, karena mobil sudah ada, tetapi sebelum
kita hendak bertolak pulang, perwakilan dari anak-anak, Regawa dan Nani datang
untuk memberikan kenang-kenangan kepada kita, berupa gantungan boneka, yang
sekarang dipasang dimobil Abet. Setelah itu kita bertolak untuk pulang dari
desa Malati dengan melihat ibu Win dan beberapa warga yang menangis. Dan
tiba-tiba air mata saya pun tumpah dengan sendirinya, dengan melihat jalan yang
sering dilalui saat kita berjalan kki menuju kecamatan, semua terlintas begitu
saja dalam pikiran yang dapat membuat saya menangis.
Perpisahan kepada Desa Malati,
merupakan suatu hal yang menyedihkan dan Perpisahan pun harus dialami juga oleh
sesama teman-teman KKN yang dipertemukan dari fakultas yang berbeda, untuk
menjalani tujuan yang sama, yaitu menjalankan tugas KKN. Berat rasanya lepas
dari masa 1 bulan yang singkat di Malati, untuk melepas kebiasaan canda tawa
bersama teman-teman KKN dan sikap keramahan dari warga desa Malati, momen
tersebut hanya ada 1 kali seumur hidup, dan itu harus berakhir dengan
cepat
Tetapi perpisahan tersebut hanya
sebatas perpisahan fisik, dan semua hal dan momen tentang desa Malati dan
teman-teman KKN tetap berada dalam ingatan kita semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar