Di Malati kami belajar arti menjadi keluarga

Di Malati kami belajar saling menghargai dan bertoleransi

Di Malati Kami balajar arti kesulitan

Di Malati kami belajar saling membantu

Di Malati kami belajar arti kebersamaan

THANKS TO MALATI…!!!!

Minggu, 08 Agustus 2010

KEINDAHAN DESA MALATI


Malati, menyimpan banyak keindahan didalamnya, baik keindahan alam desa malati, maupun keindahan dari seluruh komponen masyarakat desa malati.
Di tempat ibu Epon mansion, dari sana kita dapat merasakan keindahan alam sebuah desa yang masih alami, pemetang sawah yang luas, dan tebing2 tinggi yang berwarna hijau. Saung yang berada ditengah sawah didepan rumah ibu epon mansion, disana kita semua biasa untuk tempat bersantai, hal itu saya rasakan ketika, saya bersantai dengan baim, dan ketika bermain kartu dengan bule, abet dan baim. Hawa sejuk saat sore hari,saat yang ditunggu, untuk melepaskan waktu untuk bersantai, dan biasanya juga kabut sudah mulai turun saat sore hari. Ketika malam hari, mulai terdengarlah suara-suara binatang malam, seperti kodok, serangga, dan binatang-binatang kecil lainnya, dan ada suara binatang yang mepunyai ciri khas, seperti bunyi alarm,  Malam pun kita biasa bersantai dan biasanya sampai bergadang, biasa nya bagi para laki-lakinya tempat kita bersantai di warung kang ade, atau warung nasi sederhana uwa. Dengan ditemani secangkir kopi dan rokok bagi yang merokok, kita semua saling bercengkerama dengan suasana penuh kehangatan keluarga. Ada yang curhat, ada yang cuma bersantai, klo gw laper sih, biasanya gw pesen indomie rebus, tetapi semuanya itu dalam satu suasana yang hangat. Pagi harinya keadaan desa yang masih sejuk dan segar, bagi yang merasakan bangun pagi, cz anak-anak biasanya bangun maksimal jam 11 pagi, biasanya teman-teman KKN sudah mulai cari sarapan, ada yang cari roti, masak mie, bikin energen, nesstum, kopi atau nongkrong diwarung nasi sederhana dan makan bakso miranti. Semua itu  untuk mengisi tenaga di pagi hari, dan persiapan bagi yang piket. Hehehe..
Warga desa Malati pun cukup ramah kepada kita semua, pada hari awal kita datang, kita langsung di undang ke acara akikah dari tetangga rumah. Kita semua selalu di undang dalam acara-acara dari warga desa Malati, seperti rajaban, ulang tahun, dan acara pengajian rutin. Sapaan hangat warga desa Serta bantuan-bantuan yang diberikan warga desa kepada kita selama kita menjalan tugas KKN ini pun  menjadi suatu ingatan yang tak terlupakan.
Hari Kamis merupakan hari yang di tunggu warga desa Malati dan juga kita anak-anak KKN, karena merupakan hari pasar. Dimana hari itu banyak sesuatu yang dijual diluar hari-hari normal. Seperti beli sayur, beli peralatan penunjang program dan lainnya. Lahang merupakan minuman yang dibuat sebelum menjadi gula aren, lahang adalah minuman yang selalu dingat oleh kita semua, khususnya gw, karena baru pertama kali mencicipi yang namanya lahang didesa Malati. Makanan snack fogo yang hanya kita jumpai di malati, merupakan jajanan favorit teman-teman KKN, kata Abet “ udah enak, bergizi lagi “.
Dan masih banyak lagi hal-hal indah yang terdapat di Malati

TIMNAS KKN DESA MALATI


Para mahasiswa KKN Unpad Desa Malati mengikuti PHBN pertandingan sepak bola yang diadakan oleh desa Malati dengan susunan pemain Chandra (kiper), Yuqi dan Dika (bek tengah), Abet (bek Kanan), Tyo (bek kiri), Ruli dan Bule (Gelandang), Ucrit (sayap kiri), Baim (sayap kanan), gw/Anggun dan Nizar (penyerang).
Kita mempunyai komposisi pemain yang pas-pasan, hanya 11 orang tanpa pengganti, tetapi tidak menyurutkan semangat kita, yang telah berkomitmen, apapun yang terjadi, yang penting kebersamaan kita tidak pudar. Dan tetap menjaga portisipitas. Lawan pertama kita adalah kedusunan bumi mekar, yang dilalui dengan pertandingan cukup alot dengan skor 3-3 sampai 2x 45 menit, dengan 2 gol Bule dan 1 gol Nizar, dan harus dilanjutkan sampai babak pertambahan waktu serta babak adu finalty, yang dimenangkan oleh Timnas KKN dengan skor 3-0. Dan kita sangat atas kemenangan tersebut. Dengan merayakan euforia tersebut, serta ucapan terima kasih bagi warga desa Malati yang memberi dukungan penuh kepada timnas KKN.
 Pada pertandingan kedua setelah program hari anak nasional dilakukan pada pagi harinya, dengan kembali mendapat dukungan dari warga kedusunan Malati kita bertanding melawan kedusunan mekarlaksana. Dukungan warga sangat terasa kepada kita, seperti kita diberikan pinjaman sepatu dan kaos tim oleh warga kedusunan Malati, serta dukungan dari anak-anak kecil dan JaHe kepada Timnas KKN, dengan dibuatnya tulisan “bobotoh ule”. Tetapi sayangnya pada pertandingan tersebut kita kalah dengan skor 2-3, dengan gol gw (Anggun) dan Ruli.
Banyak hal-hal yang tak terlupakan dari Timnas KKN desa Malati, dari kelucuan dari setiap pemain kita, serta dukungan yang diberikan oleh desa malati, dan mungkin bagi Dika ini merupakan salah satu momen yang tak terlupakan baginya.
“Ranger KKN, SEMANGAT….!!!!” 

Sabtu, 07 Agustus 2010

KELUARGAKU DI DESA MALATI



Di desa Malati saya dan semua teman-teman KKN menemukan banyak keluarga baru, warga desa Malati sudah kami anggap sebagi saudara karena kedekatan kita kepada warga, dan hal itu sangat dirasakan sekali. Pa Hakim yang telah banyak membantu dalam program kita, ibu wiwin yang memasak makanan untuk kita, dan begitu peduli dengan keadaan anak-anak KKN, dan Pa ojos yang selalu mebantu kita, mungikn Ruli dan Tyo akan ingat akan pijatan pa Ojos.dan masih banyak lagi kenangan dan kebaikan dari para warga desa Malati, yang tidak dituliskan, akan tetapi selalu diingat.
pa kades (pa hendar), pa kadus (pa sidin ependi), pa ojos, pa abdul hakim, pa trisno, kang asep, kang dian, kang Ade ibu wiwin, ibu baso miranti, uwa warteg, ibu Epon, adik ku, windy, regawa, ferdi, dandi, parhan, nani, elsa, rini, mita. Dan semuanya warga Malati… terimakasih sudah menerima kami menjadi bagian dari kalian, dan kami tidak akan melupakan kalian, dan kami harap kalian pun tidaka akan melupakan kami.

HARI PERPISAHAN


Kata perpisahan adalah sesuatu yang saya tidak sukai, tetapi itu semua harus saya terima, karena konsekuensi dari suatu pertemuan yang diakhiri oleh kata perpisahan dan manusia berada didalam waktu yang terus berjalan.
2 hari sebelum kepulangan, kita membuat acara perpisahan, yang berupa hiburan dangdut dan penampilan slide show dari hasil-hasil foto seluruh kegiatan mahasiswa dan warga di desa Malati. Acara tersebut diakhiri dengan sangat sedih, dimana Baim kordes yang menyampaikan pidato perpisahan, yang isi adalah ucapan terimakasih dan permohonan maaf kepada seluruh warga desa Malati. Dan setelah itu semua warga menyalami kita semua, sebagai perpisahan secara personal kepada masing-masing warga. Keesokan harinya, sebelum hari kepulangan, kita melakukan acara nonton bareng anak-anak dan pamitan kembali khususnya kepada orang-orang yang telah banyak membantu kita, seperti keluarga pa hakim, keluarga pa ojos dan ibu win, pa kadus, dan lainnya. Malam harinya kita semua anak-anak KKN makan malam bersama dirumah ibu Win, setelah makan kita mengobrol dengan keluarga ibu win, dan tiba-tiba ibu win menangis, dan kata-kata ibu win yang membuat saya tersentuh dan merasa sedih adalah   “Kalian udah ibu anggap seperti anak sendiri”.sampai segitunya kedekatan kita terutama dengan keluarga Ibu win dan pa ojos, dan banyak tetangga-tetangga yang datang ketempat kontrakan kami untuk mengucapkan salam perpisahan, dengan perasaan sedih  tapi semua itu bisa diterima oleh kita semuanya. Hari kepulangan kita pun tiba, dengan menggunakan 1 mobil elf, dan 2 mobil pribadi. Tapi sebelumnya saya, Sheila, Chandra, Lisma mewakili semuanya pergi berpamitan ke SD Malati, sekaligus saya mau ketemu windy, hehe… ngucapin salam perpisahan juga. Di SD rasanya saya ingin menangis ketika saya melihat anak-anak SD dan tahu bahwa saat itu kita akan berpisah, tetapi semuanya dapat saya tahan. Setelah dari SD, dengan diantar oleh beberapa warga termasuk ibu Win kita semua bergegas untuk pulang, karena mobil sudah ada, tetapi sebelum kita hendak bertolak pulang, perwakilan dari anak-anak, Regawa dan Nani datang untuk memberikan kenang-kenangan kepada kita, berupa gantungan boneka, yang sekarang dipasang dimobil Abet. Setelah itu kita bertolak untuk pulang dari desa Malati dengan melihat ibu Win dan beberapa warga yang menangis. Dan tiba-tiba air mata saya pun tumpah dengan sendirinya, dengan melihat jalan yang sering dilalui saat kita berjalan kki menuju kecamatan, semua terlintas begitu saja dalam pikiran yang dapat membuat saya menangis. 
Perpisahan kepada Desa Malati, merupakan suatu hal yang menyedihkan dan Perpisahan pun harus dialami juga oleh sesama teman-teman KKN yang dipertemukan dari fakultas yang berbeda, untuk menjalani tujuan yang sama, yaitu menjalankan tugas KKN. Berat rasanya lepas dari masa 1 bulan yang singkat di Malati, untuk melepas kebiasaan canda tawa bersama teman-teman KKN dan sikap keramahan dari warga desa Malati, momen tersebut hanya ada 1 kali seumur hidup, dan itu harus berakhir dengan cepat  
Tetapi perpisahan tersebut hanya sebatas perpisahan fisik, dan semua hal dan momen tentang desa Malati dan teman-teman KKN tetap berada dalam ingatan kita semua.

03. slide perpisahan - MAHASISWA.mp4

01. slide perpisahan - DESA MALATI.mp4

slide perpisahan - KENANG-KENANGAN.mp4